Edisi 22 Oktober 2026Dari lobi sampai grand final.
← Arena PixelEsports

Latihan esports bukan sekadar main lama: catatan dari pinggir lobi

Jam main panjang belum tentu jadi jam latihan.

Beberapa minggu terakhir saya sering nongkrong di pojok sebuah ruang latihan tim amatir di kota saya. Bukan sebagai pemain, cuma sebagai orang yang penasaran. Satu hal yang langsung terasa: yang mereka lakukan berbeda dengan yang saya lakukan di kamar tiap malam. Saya main lama. Mereka berlatih.

Bedanya kelihatan sepele tapi besar. Saya masuk lobi, cari pertandingan, menang atau kalah, lalu cari pertandingan lagi. Tidak ada catatan, tidak ada tujuan selain naik peringkat. Mereka memulai sesi dengan satu hal yang ingin dibereskan hari itu. Misalnya cara berkomunikasi saat rotasi, atau kebiasaan panik ketika kalah jumlah. Semua pertandingan hari itu dinilai dari satu hal itu saja, bukan dari menang atau kalah.

Setelah sesi, mereka duduk dan menonton ulang rekaman. Bagian ini yang paling membosankan buat saya sebagai penonton, tapi justru di situ perbaikannya terjadi. Mereka berhenti di momen tertentu, bertanya kenapa keputusan itu diambil, lalu lanjut. Tidak ada yang berteriak. Kesalahan dibahas sebagai masalah, bukan sebagai aib.

Saya pulang dengan pelajaran yang agak memalukan: ratusan jam saya di lobi mungkin cuma pengulangan kebiasaan yang sama. Latihan yang sesungguhnya butuh tujuan, catatan, dan orang lain yang berani bilang bahwa keputusan kita tadi buruk. Kalau kamu bermimpi serius di esports, mungkin mulai dari situ, bukan dari menambah jam.

WH
Wisnu HamzahWisnu menulis artikel pertama Arena Pixel pada 2023 dan terus mengisi rubrik esports sampai 2025. Ia pernah bertahun-tahun jadi kasir warnet, tempat ia pertama kali menyaksikan tim lokal berlatih untuk turnamen.